Minggu, 20 April 2014

Pola Tanam Tumpangsari dapat Mempertahankan Swasembada dan meningkatkan Pendapatan Petani

Jumlah penduduk semakin hari semakin bertambah, secara otomatis pembangunan di bidang perumahan semakin meningkat. Pembangunan perumahan dan perusahaan yang semakin meningkat akan mengurangi lahan pertanian. Banyak lahan-lahan produktif beralih fungsi dari pertanian menjadi pembangunan, hal ini mempersempit kiprah pertanian dalam swasembada dan swasembada berkelanjutan. Para pejabat mulai berpikir, bagaimana untuk mengatasi hal yang semperti ini, agar Indonesia tetap dapat mempertahankan swasembada yang telah di perolehnya, sedangkan lahan pertanian semakin hari semakin menyempit.

Ada beberapa langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah dalam mempertahankan swasembada kita yaitu 1) Pembukaan lahan pertanian baru, sehingga dapat memperluas areal tanam, 2) mengefektifkan penggunaan lahan produktif, 3) menciptakan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktifitas pertanian. Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan swasembada dan swasembada berkelanjutan dapat di raih dengan baik, ditambah lagi munculnya program P2BN yang mencanangkan surplus 10 juta ton beras tahun 2014. Dengan kondisi sekarang, program P2BN itu dapat tercapai dengan baik, apabila ketiga langkah itu itu diterapkan secara intensif.

Ada kegiatan aplikatif yang dapat dilakukan oleh para petani dalam rangka mendukung swasembada pangan dan swasembada yang berkelanjutan. Penanaman dengan pola tanam tumpangsari adalah salah satu kegiatan aplikatif yang dapat dilakukan oleh para petani kita dalam rangka mendukung swasembada pangan dan swasembada berkelanjutan. Tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam yang sama. Pola tanam tumpangsari disebut sebagai pola tanam yang intensif, karena pola tanam ini mampu meningkatkan produktivitas lahan. Selain itu banyak sekali kelebilan pada pola tanam tumpangsari, yaitu :

1. Efisien penggunaan ruang dan waktu 

Pada awal telah dijelaskan bahwa tumpangsari merupakan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dalam periode waktu yang sama. Pola tanam ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan, sehingga dalam satu waktu dapat berproduksi ganda. Dalam kaitannya dengan ruang, pada pola tanam tumpang sari, masih ada space yang kosong pada jarak tanam tanaman dengan habitus tinggi seperti padi dengan tanaman mangga. Ruang kosong itu yang dimanfaatkan untuk tanaman sehingga penggunaan lahan lebih efisien. Contoh lainnya tumpangsari antara jagung dengan ubi kayu dan juga tumpangsari antara jagung dengan kacang hijau. 

2. Pengolahan tanah menjadi minimal 

Pengolahan tanah minimal lebih terlihat pada pola tanam tumpang gilir. Pada tumpang gilir, segera setelah suatu tanaman hampir menyelesaikan siklus hidupnya, buru-buru ditanami tanaman yang lain. Akibatnya, tidak ada waktu lebih untuk melakukan pengolahan tanah. Salah satu kelebihan tanpa pengolahan tanah atau dengan pengolahan tanah minimal adalah tidak terjadinya kerusakan struktur tanah karena terlalu intensif diolah. Selain itu, pada pengolahan tanah minimal atau tanpa oleh tanah resiko erosi akan lebih kecil daripada yang diolah secara sempurna. 

3. Meragamkan gizi masyarakat 

Hasil tanaman yang lebih dari satu jenis tentunya akan memberikan nilai gizi yang beragam. Setiap tanaman pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang berbeda-beda. Ada sebagian yang mengandung karbohidrat, ada juga yang mengandung protein, lemak, ataupun vitamin-vitamin. Penganekaragaman jenis tanaman juga akan memberikan keanekaragaman jenis gizi kepada masyarakat. 

4. Menekan serangan hama dan patogen 

Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman hanya satu jenis tanaman talah mengurangi keberagaman makhluk hidup penyusun ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan patogen penyebab penyakit tanaman. Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT memberikan keuntungan (1) penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif (2) penjagaan keanekaragaman komunitas (3) penyediaan inang alternative (4)penyediaan makanan alami (5) pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan (6) penggunaan insektisida yang selektif. 

5. Meningkatkan pendapatan petani

Penanaman secara monokultur, produksi yang dihasilkan hanyalah satu komoditas, tetapi dengan menanam secara tumpangsari, maka dalam lahan dan waktu yang hampir sama dapat mengahasilkan produk lebih dari satu komoditas, sehangga secara otomatis pendapatannya akan meningkat apabila dibandingkan penanaman secara monokultur.

6.  Mengurangi resiko kegagalan

Resiko kegagalan yang tinggi dalam usaha pertanian membuat petani menanam lebih dari satu jenis tanaman sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih dapat memanen komoditas yang lain.

Tanaman selalu memerlukan unsur hara, sinar matahari dan oksigen dalam proses pertumbuhannya. Ketika lahan pertanian ditanami dengan lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi dapat saling menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling menghambat (competition). Dengan demikian, kultur teknis yang harus diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah jarak tanam, populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman. Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan kerjasama dan meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan. 

Sehubungan dengan itu, pola tanam tumpangsari juga mempunyai beberapa kelemahan yang perlu di perhatikan. Beberapa kelemahan pola tanam tumpangsari yaitu :

1. Persaingan dalam hal unsur hara

Dalam pola tanam tumpangsari, akan terjadi persaingan dalam menyerap unsur hara antar tanaman yang ditanam. Sebab, setiap tanaman memiliki jumlah kebutuhan unsur hara yang berbeda-beda, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu tanaman akan mengalami defisiensi unsur hara akibat kkalah bersaing dengan tanaman yang lainnya.

2. Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan

Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit.

Untuk menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsari dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi secara optimal. Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal. 

Dalam sistem pola tanam tumpangsari terdapat berbagai macam sistem dalam pola tanamnya. Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain :

1.  Mixed Cropping

Mixed Croppingmerupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam dilahan yang sama, pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval waktu tanam yang singkat, dengan pengaturan jarak tanam yang sudah ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi.

2. Relay Cropping

Relay Croppingmerupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau lebih tanaman tahunan. Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih panjang ditanam pada penanaman pertama, sedang tanaman yang ke-2 ditanam setelah tanaman yang pertama telah berkembang atau mendekati panen.

3. Strip Cropping/Inter Cropping

Strip Cropping/Inter Croppingadalah sistem format pola tanam dengan penanaman secara pola baris sejajar rapi dan konservasi tanah dimana pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan pada format satu baris terdiri dari satu jenis tanaman dari berbagai jenis tanaman.

4. Multiple Cropping

Multiple Croppingmerupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada peningkatan produktivitas lahan dan melindungi lahan dari erosi.

Dengan mengaplikasikan berbagai system pola tanam tumpangsari seperti yang telah diuraikan diatas, akan dapat meningkatkan IP, sehingga dapat membantu mewujudkan swasembada pangan dan swasembada yang berkelanjutan serta dapat meningkatkan pendapatan para petani.

 

 

Bahan Bacaan

 

http://www.anakagronomy.com/2013/03/pola-tanam-tumpangsari.html

http://m.epetani.deptan.go.id/budidaya/tumpangsari-antara-tanaman-mangga-dengan-padi-sistem-legowo-2-di-desa-sedonglor-kabcirebon

Syaiful A.S., A.Yassi, N. Rezkiani. 2011. Respon tumpangsari tanaman jagung dan kacang hijau terhadap sistem olah tanah dan pemberian pupuk organik. 

Setyawati W, dan A.A Asandhi. 2003. Pengaruh sistem pertanaman monokultur dan tumpangsari sayuran crucifera dan solanaceae terhadap hasil da struktur dan fungsi komunitas artropoda. 

Suwarto, S. Yahya, Handoko, dan M.A. Coizin. 2005. Kompetisi tanaman jagung dan ubi kayu dalam sistem tumpangsari. 

http://www.anakagronomy.com/2013/03/pola-tanam-tumpangsari.html

http://m.epetani.deptan.go.id/budidaya/tumpangsari-antara-tanaman-mangga-dengan-padi-sistem-legowo-2-di-desa-sedonglor-kabcirebon

Syaiful A.S., A.Yassi, N. Rezkiani. 2011. Respon tumpangsari tanaman jagung dan kacang hijau terhadap sistem olah tanah dan pemberian pupuk organik. 

Setyawati W, dan A.A Asandhi. 2003. Pengaruh sistem pertanaman monokultur dan tumpangsari sayuran crucifera dan solanaceae terhadap hasil da struktur dan fungsi komunitas artropoda. 

Suwarto, S. Yahya, Handoko, dan M.A. Coizin. 2005. Kompetisi tanaman jagung dan ubi kayu dalam sistem tumpangsari. 

Kategori : Artikel Umum | Dibuat : Rabu, 21 Agustus 2013 13:52 | Ditulis Oleh : Saeroji | Dibaca : 855 Kali


Artikel Terkait

Add comment


Security code
Refresh

Kontak Kami


Statistik

Hari Ini698
Kemarin815
Minggu Ini7893
Bulan Ini25307
Jumlah419664

IP Pengunjung 54.226.168.96 Info Pengunjung Unknown - Unknown Minggu, 20 April 2014 20:26

Sedang Mengunjungi

Pengunjung : 22 Online Anggota : 0 Online

Pendapat Anda Tentang Website Ini

  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
Total Votes:
First Vote:
Last Vote:
 
Powered by Sexy Polling